Jumat, 09 Desember 2011

FILSAFAT YAHUDI

filsafat yahudi adalah suatu displin akademik. Filsafat yahudi adalah suatu penemuan (invention) dari para sejarahwan filsafat abad ke -19. Mereka ingin menyatukan para filsuf berdarah Yahudi ke dalam satu kerangka untuk bisa dipelajari dan ditanggapi secara kritis. Sebelum abad ke-19, tidak ada orang yang secara eksplisit mengajukan tesis ataupun pertanyaan terkait dengan filsafat yahudi. Sebabnya sederhana yakni karena tidak ada yang disebut sebagai filsafat yahudi. Tidak ada filsuf sebelum abad ke-19 yang mengakui filsafat yahudi sebagai cabang dari filsafat. Para filsuf berdarah Yahudi seringkali digolongkan di dalam aliran-aliran filsafat tertentu, namun bukan filsafat yahudi. Hal ini sebenarnya bisa dimengerti, karena pada masa pra-modern dan modern, filsafat, teologi, dan ilmu pengetahuan masih berada di dalam satu kesatuan. Pada masa-masa itu, perbedaan antara ketiganya seringkali tidak jelas. Di peradaban Islam yang justru merupakan tempat yang subur bagi berkembangnya pemikiran para filsuf yang berdarah yahudi, orang-orang seperti Maimonides ataupun Gersonides (yang akan kita bedah isi pemikirannya pada bab-bab berikutnya) tidak memandang diri mereka sebagai bagian dari para filsuf yahudi. Dalam arti tertentu mereka lebih tepat ditempatkan sebagai para filsuf yang memberikan tafsiran yang kreatif dan rasional atas tradisi Yahudi yang memang telah berkembang ribuan tahun sebelumnya. Mereka adalah para filsuf yang menggunakan konsep-konsep filosofis sebagai dasar bagi tafsiran atas tradisi Yahudi.[2] Bagi para pemikir seperti Maimonides dan Gersonides, kitab suci Yahudi adalah suatu traktat filosofis yang bisa dikembangkan tafsirannya secara rasional dan sistematis. Akan tetapi kegiatan intelektual semacam itu, yakni menafsirkan kitab suci Yahudi secara filosofis, juga belum dapat menjadi dasar yang kokoh untuk suatu ‘filsafat yahudi’. Menurut Frank dan Leaman (selanjutnya saya singkat menjadi FL), suatu refleksi filosofis terhadap kita suci Yahudi tidak pernah dapat disebut sebagai filsafat yahudi, karena refleksi semacam itu tidak memiliki implikasi universal yang kiranya bisa berlaku untuk orang-orang di luar etnis ataupun agama Yahudi. Bagi Maimonides dan Gersonides (seperti akan kita lihat secara lebih detil pada bab-bab berikutnya), berfilsafat atas ajaran Yahudi adalah suatu kewajiban moral yang perlu dan harus dilaksanakan, terutama untuk menarik relevansi konkret dari ajaran Yahudi yang memang sudah berusia ribuan tahun. Mereka menafsirkan tradisi dan menjadikannya sebagai tema diskusi yang menarik, terutama tentang penciptaaan, karya Allah, dan bahkan ramalan atas masa depan bangsa Yahudi. Gaya semacam ini memang tidak hanya ditemukan di dalam tradisi Yahudi. Berdasarkan penelitian FL gaya seperti itu sebenarnya juga dapat ditemukan di tradisi filsafat lainnya. Bahkan hampir semua agama monoteistik, seperti Islam dan Kristen, melakukan hal ini. Mereka menanggapi hal-hal yang muncul di dalam kitab suci secara filosofis. Sekali lagi perlu untuk ditegaskan, bahwa filsafat Yahudi bukanlah cabang filsafat, melainkan suatu cara untuk menafsirkan tradisi kultur Yahudi dengan menggunakan pendekatan filosofis yang sifatnya rasional, kritis, dan sistematis. Di dalam filsafat abad pertengahan, para filsuf seringkali berpijak pada tradisi agama tertentu, dan kemudian bergerak untuk merumuskan suatu sistem filsafat tersendiri untuk memahami realitas. Tidak hanya dulu para filsuf kontemporer sekarang ini seringkali berpijak pada suatu sistem filsafat tertentu untuk mengembangkan pemikirannya, seperti yang dilakukan oleh Iris Murdoch dengan tradisi Platonisme dan Alasdair MacIntyre dengan tradisi Aristoteliannya. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, filsafat Yahudi adalah temuan pada sejarahwan filsafat abad ke-19. Tujuan mereka adalah untuk menanggapi suatu situasi dan kondisi jaman tertentu yang dianggap dapat menghancurkan identitas Keyahudian. “Filsafat Yahudi”, demikian FL, “muncul sebagai suatu upaya untuk melukiskan, sejalan dengan standar garis akademik, sebuah kesatuan tulisan-tulisan.”[3] Dengan kata lain filsafat Yahudi adalah suatu kesatuan tekstual yang berpijak pada tradisi suku dan agama Yahudi, serta memenuhi standar akademik. Misalnya filsafat Yahudi tidak membahas mistisisme, karena dianggap tidak sesuai dengan standar akademik dan rasionalitas. Dari pemaparan FL dapatlah disimpulkan, bahwa filsafat Yahudi merupakan suatu displin akademik yang diciptakan pada abad ke-19 untuk memelihara dan mengembangkan tradisi Yahudi, serta untuk menegaskan akar akademisnya. Tema utama filsafat Yahudi adalah tradisi dan agama Yahudi yang kemudian dijadikan bahan refleksi filosofis. Yang juga harus disadari adalah, bahwa tradisi itu berubah sejalan dengan perubahan jaman. Di sisi lain agama dan tradisi Yahudi juga memiliki banyak aliran. Di dalam filsafatnya Maimonides hendak merumuskan kembali pandangan dunia Yahudi yang dikaitkan dengan konteks jamannya. Ia semacam mendirikan aliran sendiri dengan mengubah pandangan orang Yahudi, yang sebelumnya memang masih bersifat tradisional, menjadi lebih progresif. Pada masa abad pertengahan, tidak ada pemisahan yang tegas antara akal budi dan wahyu. Pemisahan itu baru dilakukan, setelah Eropa mulai mengenal dan menerapkan prinsip pemisahan negara dan gereja. Bahkan menurut penelitian FL, para filsuf besar abad pertengahan, seperti Averroes, Maimonides, dan Thomas Aquinas tidak melihat adanya pemisahan antara akal budi dan wahyu agama. Proyek filsafat abad pertengahan, dan juga filsafat Yahudi, adalah untuk memahami dan menafsirkan wahyu yang terdapat di dalam agama tertentu melalui rasionalitas. Sekali lagi tujuan dari filsafat abad pertengahan, dan juga di dalam Filsafat Yahudi abad pertengahan, bukanlah mempertanyakan tradisi dan agama, melainkan memahaminya dengan cara-cara yang rasional. Sumber : http://rumahfilsafat.com/2009/11/28/filsafat-yahudi/

Senin, 10 Januari 2011

Perangkat Pembelajaran ILMU KALAM KELAS XI MA Jurusan Keagamaan

Dalam Postingan kali ini saya mencoba berbagi Perangkat pembelajaran Ilmu Kalam Kelas XI MA jurusan Keagamaan. Bagi  anda yang kebingungan mencari conto Perangkat  pembelajaran ilmu kalam diluar sana, sangat tepat sekali anda datang berkunjung ke blog saya ini, dalam file berformat rar anda akan mendapatkan Perangkat pembelajaran lengkap seperti :
1.KKM ilmu Kalam
2.Pemetaan SKKD Ilmu Kalam
3.Program Semester Ilmu Kalam
4. RPP Ilmu Kalam
5. Silabus Ilmu Kalam

Nah...Tunggu Apalagi langsung download aja disini

Perangkat pembelajaran ILMU KALAM Kelas XII MA jurusan Keagamaan

Bila dalam  Postingan sebelumnya saya berbagi Perangkat pembelajaran Ilmu Kalam Kelas XI. Untuk itu di postingan kali ini saya juga akan berbagi Perangkat pembelajaran Ilmu Kalam Kelas XII MA jurusan Keagamaan. tidak jauh berbeda dengan perangkat pembelajaran ilmu kalam Kelas XI, saya juga akan membaginya kepada ada dalam format rar, dengan isi yang lengkap seperti  :
1.KKM ilmu Kalam
2.Pemetaan SKKD Ilmu Kalam
3.Program Semester Ilmu Kalam
4. RPP Ilmu Kalam
5. Silabus Ilmu Kalam

Nah...Tunggu Apalagi langsung download aja Disini

Kamis, 28 Januari 2010

TEOLOGI ISLAM

TEOLOGI ISLAM

A. Pengertian Teologi Islam

Untuk mengawali penelitian bab II ini. Terlebih dahulu penulis akan mengemukan pengertian teologi. Teologi merepakan pengetahuan mengenai sifat-sifat Allah. Dasar-dasar kepercayaan kepada Allah dan agama terutama berdasarkan pada kitab-kitab suci.[1]

Teologi dari segi etimologi (bahasa) maupun terminologi (istilah) teologi terdiri dari perkataan teos artinya Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang tuhan atau ilmu ketuhanan.

Defenisi teologi yang diberikan oleh ahli-ahli ilmu agama antara lain dari Fergilius Ferm, yaitu the discipline which concerns God (or the divine reality) and God’s relation to the world (teologi ialah p0emikiran yang sistematis yang berhubungan dengan alam semesta).

Dalam encyclppedia everyman’s disebut tentang teologi sebagai berikut: science of religion, dealing therefore with God, and man in his relation to God (pengetahuan tentang agama, yang karenanya membicarakan tentang Tuhan dan manusia dalam pertaliannya dengan Tuhan)

Dalam kamus new english dictionari susunan collins, disebut tentang teologi sebagai berikut: the science which treats of the facts and phenomena of religion, and the relations between God and men (ilmu yang membahas tentang dan fakta-fakta gejala-gejala agama dan hubungan-hubungan antara Tuhan dan manusia).[2]

William L. Reese mendefenisikan teologi sebagai berikut discourse or reason corcerning God (diskursus atau pemikiran tentang Tuhan). William Ockham, Reese mendefenisikan teologi dengan sebagai berikut theology to be a discipline resting on revealed truth and independent of both philosophy and science (teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan) [3]

Dalam Islam teologi disebut juga dengan Ilm al-tawhid dan kadang disebut juga sebagai ’ilm al-kalam. Istilah teologi yang lazim digunakan untuk percaturan pemikiran adalah ’ilm al-kalam. Kalam dalam bahasa Arab berarti perkataan, firman, ucapan, pembicaraan. Dalam kajian teologi, kalam bisa berarti sabda Tuhan, dan bisa pula berarti kata-kata manusia. Kalam punya arti sabda Tuhan karena masalah sabda Tuhan pernah menimbulkan pertentangan keras dikalangan umat Islam abad 9 dan 10 M. Kalam juga dapat disebut sebagai kata-kata manusia karena kaum teolog Islamtelah bersilat kidah dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing.

Secara labih khusus, istilah kalam yang digunakan untuk maksud pemikiran Islam adalah debat pendapat atau pemikiran tentang sabda Tuhan. Untuk jelasnya, baik difahami oleh beberapa pengertian kalam atau teologi yang berkembang:

a. enurut Abu Bakar Atjeh, kalam ialah pembahasan tentang perbincangan-perbincangan menyangkut soal ketuhanan.

b. Menurut Kuntowijoyo, kalam itu dapat berarti kajian-kajian keislaman.

c. enurut Nurcholish Madjid, kalam merupakan suatu pengungkapan dan penalaran paham keagamaan.[4]

Dalam Islam, kata teologi juga disebut dengan nama-nama lain, seperti ilmu kalam dan ilmu ma’rifah. Disebut ilmu kalam, karena membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tercela ada padanya dan membicarakan tentang rasul-rasul Tuhan untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mungkin yang ada padanya.

Disebut ilmu ma’rifah, karena ilmu ini dapat mengenal/atau memperkenalkan ajaran-ajaran Islam, akidah Islam, sehingga dalam pembahasannya meliputi. Pertama ; ma’rifat al-mabda’ (qismu al-ilahiyyat) mengenal Allah dengan segala sifat, af’al dan asma’ Allah SWT. Kedua : ma’rifat al-washitat ( qismu an nubuwwat) yaitu mengenal utusan-utusan Allah meliputi malaikat, rasul-rasul dan kitab-kitab Allah. Ketiga : ma’rifat al-ma’ad (qismu samiyyat) mengenal dan mempercayai hari akhir dan segala sesuatu yang terjadi di alam iniiradah dengan takdir dari Allah SWT.[5]

Menurut penulis teologi Islam dalam pembahasan ini adalah ilmu yang mengkaji masalah-maslah prinsip-prinsip agama, ketuhanan, manusia serta alam semesta dan seluk beluknya dengan Tuhan. Teologi sama dengan ilmu kalam, yang beda hanya asal katanya saja, teologi berasal dari bahasa Inggeris sedangkan ilmu kalam berasal dari bahasa Arab. Dalam pembahasan ini persoalan-persoalan yang dikaji adalah persoalan-persoalan yang sering diperdebatkan atau diperbincangkan oleh teolog atau mutakallimin.

Siapapun yang memberi defenisi tentang teologi itu pe4rsoalannya hanya berkisar disekitar ketuhana dan hubungannya dengan Tuhan. Persoalan tersebut adalah persoalan yang mendasar yang dibahas dalam suatu agama. Oleh karena itu orang yang ingin mengetahui ajaran agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agamanya.[6]

[1] Team Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Baru), (Jakarta: Pustaka Phoenix,2007), cet. I, h.886

[2] A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta : PT Al-Husna Zikra, 1995),cet.VI, h. 11

[3] Rosihon Anwar, Abdul Rozak, Ilmu Kalam, , (Bandung : Pustaka Setia, 1995),cet.VI, h. 14

[4] Alkhendra, Reaktualisasi Pemikiran Teologid Di Indonesia, (Bandung: ALFABETA, 1999), cet.I, h.3

[5] Syahrin Harahap, Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedi Aqidah Islam, (Jakarta: Kencana,2003), cet.I, h.437

[6] Ermagusti, Konsep Teologi Rasional, (Padang: IAIN-IB Press, 2000), cet.I, h. 45